no title

udah lama ga nulis.

aku lagi sedih. boleh kan aku melampiaskan disini?

tenang, aku ga butuh komentar. kamu cukup diam dan tidak bertindak apapun.

hari ini aku kasih sesuatu ke dia. tapii ternyata hadiahku ga berguna hiks :””

tidakkah kamu menerimanya dan tidak berkomentar menyakitkan? 😦

sudahlah tak apa. aku tau kamu ga peka. ya laki-laki memang banyak yang tak peka.

sekian.

 

Laki laki yang baik untuk perempuan yg baik dan perempuan yang baik untuk laki laki yang baik. Benarkan?

Perempuan mana yang tak mau menjadi milik seorang laki laki yang soleh, yang kelak akan mengambil alih beban di pundak Sang ayah ke pundaknya dan kelak ‘ijinnya’ akan diutamakan.

Jodoh itu cerminan diri, benarkan?

Siapa yang tak mau mendapatkan sosok laki laki yang menjaga dirinya untuk jodohnya kelak. Menjaga pergaulan dari perempuan yang bukan mahramnya, agar kelak ‘sang istri impian’ mendapatkan hak yang seharusnya.

lebih baik mencintai dalam doa kan?

Cinta.. rasa yang Allah anugerahkan kepada semua manusia. Tak ada yang salah dengan cinta. Dengan cinta banyak kebaikan kebaikan yang akan kita rasakan dan kita bagikan disekitar kita. Yang salah adalah mencintainya lebih dari yang memberikan ‘Cinta’. jika Allah belum memberikan waktu terbaik untuk menyempurnakannya, cukup jaga cinta itu dengan baik, cukup hadirkan namanya disetiap doa kita. Yakinlah, kekuatan doa sungguh luar biasa, bahkan bisa mengubah takdir yang telah Dia ciptakan.

berkaca

aku seperti berkaca.

menatap aku yang dahulu

menjauh pergi melampaui kenangan yang sekarang

senang

senang karena tak sendiri, selalu ada yang menolak untuk pergi

memilih menetap dan memberi lebih

katanya berdua itu lebih baik, benarkah?

mungkin saat itu iya, pasti semua senang bila tak sendiri kan?

aku selalu siap berbagai alasan untuk menghalalkan

menikmati dengan bahagia walau menentang

merasa semua tak akan dihiraukan, seperti angin yang berlalu tanpa ijin

aku hanya menutup telinga tentang suara bising itu

takkan merubah apapun keinginan ku

ah tiba-tiba aku tersadar dari khayalanku yang indah

dan kini menyesali masa lalu yang telah mencoreng impian

merusak kado terindah untuk seseorang kelak

semoga kau takkan jatuh dua kali ditempat itu sahabat..

menyesal untuk kesekian kalinya

selalu terbayang seumur hidupmu dan tak beranjak di hari-hari rahasiamu

for you my best

:))

 

Setiap apa yang terjadi adalah netral, tergantung bagaimana seseorang memaknainya. Bisa jadi suatu hal menjadi penting untuk seseorang, akan tetapi belum tentu sama untuk orang lain. Teringat kata-kata seseorang, 

“Seseorang yang ‘pandai merasa’ akan lebih baik dibandingkan dengan seseorang yang ‘merasa pandai”

Seseorang yang pandai merasa adalah seseorang yang peka terhadap keadaan, dapat menempatkan diri pada posisi yang dialami oleh orang lain atau biasanya kita sebut dengan empati. Mengapa hal ini penting? Sebenarnya apa yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri, jadi ketika kita tidak ingin diremehkan janganlah meremehkan orang lain lain, karena tentu saja siapapun tidak suka jika diremehkan. Apa yang kita lakukan seringkali bukanlah sesuatu yang terlihat, hanya terasa oleh orang yang mungkin kita lukai hati nya, maka hati-hatilah dengan hati. Ada sebuah kisah sebagai berikut;

Di suatu daerah ada seorang anak yang sangat bandel, suka membantah perkataan orang tuanya, berkata yang menyakitkan hati orang, suka meremehkan orang lain, suka memarahi orang yang bekerja pada ayahnya, sombong dan masih banyak lagi kelakuannya yang membuat orang lain menjadi sakit hati. Hingga suatu hari dia menyadari bahwa kelakuannya tidak baik dan dia mendatangi ayahnya untuk meminta maaf. Sang ayah memiliki syarat untuk anaknya, 

“Baiklah anakku, kau akan ku maafkan jika kau juga meminta maaf pada orang-orang yang kau sakiti. Dan hitunglah kesalahan yang kau ingat dengan paku ini dan tancapkalah paku itu di sebuah pohon. Jika kau telah meminta maaf dan dimaafkan oleh orang tersebut, maka cabutlah satu paku itu hingga paku tersebut habis kau cabut”.

Sang anakpun menyanggupi persyaratan ayahnya dan mulai meminta maaf pada orang yang pernah disakiti, dan satu per satu paku yang tertancap dipohon pun berkurang. Sampai suatu hari sudah habislah paku di pohon tersebut. Sang anak menghadap ke ayahnya untuk melaporkan bahwa dia telah berhasil meminta maaf pada orang yang telah dia sakiti dan berharap ayahnyapun akan memaafkanya.
“Ayah aku tlah meminta maaf pada orang-orang yang ku sakiti, sekarang maafkanlah aku”.

Sang ayah masih terdiam dan mengajak si anak kembali ke pohon tempat paku yang dulu ditancapkannya. 
“Oia, kau telah mencabut semua paku kesalahan itu, akan tetapi tidakkah kau lihat bekasnya disana? Masih kah tampak oleh mu?”

Sang anak menjawab,”Tentu saja masih ayah, memerlukan bertahun-tahun untuk menghilangkan bekasnya”.
“Nah seperti itu juga kelakuan kita yang menyakiti orang lain, akan menimbulkan bekas untuk waktu yang cukup lama, maka janganlah lagi kau membuat orang lain terluka hatinya”.

Ya seringkali kita tanpa sengaja melukai perasaan orang lain, atau tidakkah pernah sahabat merasa terluka akibat perlakuan seorang teman yang sampai sekarang masih membekas, maka yuks sama-sama berhati-hatilah dalam berucap dan bertindak, supaya bekas yang ada bukalah bekas paku yang menyakitkan tapi pahatan indah bernama kasih sayang.

teman adalah hadiah

 

Teman adalah hadiah dari Allah untuk kita. Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan. 
Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita. 
Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll. 
Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya. 
Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa “lutut” mereka luka atau mereka “takut air”, mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri. 
Mereka akan bilang:
“Menari itu tidak menarik”
“Tidak ada yang cocok denganku”
“Teman-temanku sudah lulus semua”
“Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku”
“Kisah hidupku membosankan” 
Mereka tidak akan bilang:
“Aku tidak bisa menari”
“Aku membutuhkan kamu denganku”
“Aku kesepian”
“Aku butuh diterima”
“Aku ingin didengarkan” 
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya untuk kita.

bangun cinta ..

 

Bismillah…

Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja,
maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah…
(Salim A. Fillah: Jalan Cinta Para Pejuang)

Jika ada dua pilihan,
jatuh cinta atau bangun cinta,
padamu… aku memilih yang kedua…
agar cinta kita menjadi sebuah istana, tinggi menggapai syurga….
(Salim A. Fillah: Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim)

Allah… ajari aku untuk dewasa memberi makna
menyisipkan arti dalam tiap rasa yang teretas dalam dada

Sebab cinta adalah pengupayaan,
maka aku tidak serta merta mencintaiMU, mencintai RasulMU, mencintai jihad di jalanMU…

Sebab cinta adalah pengupayaan,
maka hidayah tak datang dengan sendirinya,
melainkan hadir seiring kesungguhan mencari jalan kebenaran…

Allah… terangi hidup ini dengan cahayaMU,
agar saat ku menyelami lautan ni’mat,
yang terucap adalah syukur
agar saat ku tergores duri ujian,
yang terlisan adalah sabar

Sebab cinta bukanlah kata benda,
maka ia yang tiba sebelum waktunya tak pantas disebut cinta
maka ia yang melintas tak tentu arah terlalu rendah dipredikati cinta

Sebab cinta bukanlah kata benda,
maka ia yang memiliki batasan waktu, justru mendustai cinta
maka ia yang berkesudahan, justru mengotori arti cinta

Tetapi cinta adalah kata kerja,
maka tak ada istilah jatuh cinta…
yang ada hanyalah bangun cinta….

Layaknya cinta kita pada Allah, pada Rasul, pada jihad di jalanNya, yang tidak terberi sejak awal….
tidak! kita harus mengupayakan diri untuk mencintai ketiganya…

Karena cinta adalah kata kerja,
maka tak sulit bagi seorang Umar Ibn Khattab untuk menata ulang urutan cintanya, dari Rasul di atas dirinya, menjadi Rasul di atas segalanya…

Karena cinta adalah kata kerja,
maka tumbuhlah pohon ikhlas di taman hati Salman Al-Farisi saat wanita yang ia lamar justru jatuh hati pada Abu Darda, pengantar khitbah-nya.
Hingga ia serta merta merelakan hantarannya untuk Abu Darda

copas dari temen,, semoga manfaat >.<

cinta :)

Cintaa ..
Anna Althafunnisa, Dalam Film
KCB
Cinta..Sekalipun cinta telah
diuraikan dan dijelaskan panjang
lebar..
Namun jika cinta kudatangi, aku
jadi malu oleh keteranganku
sendiri..
Meskipun lidahku telah mampu
menguraikan..
Namun tanpa lidah, cinta
ternyata lebih terang..
Sementara pena, begitu tergesa-
gesa menuliskannya..
Kata-kata pecah berkeping-
keping, begitu sampai kepada
cinta..
Dalam menerangkan cinta, akal
terbaring tak berdaya..
Bagaikan keledai terbaring dalam
lumpur..
Cinta sendirilah yang
menerangkakan cinta..
walaupun digambarkan cinta
begitu indahnya, namun ukhti
ayo maknai cinta dengan makna
nya yang sebenarnya, cinta yang
hanya berorientasi untuk dan
karena ALLAH Ta’ala.. ayo
bersama menjaga diri dari cinta
yang ternoda .
Ukhibukhfillah.

5cm trailer

bingung mau nonton film apa? tonton film 5cm yang mulai tayang di bioskop tanggal 12-12-12. 🙂

hebring

ini kartun lucu buatan indonesia 🙂

kisah nyata : Berhenti jadi wanita karir

Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan. Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”. “Belum ”, jawabku datar. Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?” Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan. “Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “Menunggu suami” jawabnya pendek. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?” Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga. “Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati. “Kenapa?” tanyaku lagi. Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas. Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja. “Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ? Waktu itu jam 7 malam, suami saya menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing. Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah !!”. Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya. Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.” Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya. “Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan. Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya. Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya. Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini” “Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara. “Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.” Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan. “Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat. “anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ? Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ? Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ? Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan ? Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ? Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu. Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho. Ya Allah…. Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.. Diposkan oleh ZILZAAL

sumber : http://nowilkirin.blogspot.com/2012/06/kisah-nyata-berhenti-jadi-wanita.html